Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us
Selasa, April 29, 2008

Keren berpahalah

Diposting oleh misbah06_blogspot.com

Tak ada jeleknya jika kamu kepengengen mengenakan pakaian indah apalagi baru, karena itu bagian dari memprlihatkan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Suatu ketika Rasulullah melihat seorang sahabat yang menegnakan pakaian lusuh, maka beliau pun berkata kepadanya,



“Apabilah Allah mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas ni’mat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu.” (Riwayat Abu Dau dan disahikan oleh Al-Albani).
Namun yang mest kamu catat hindarkan per asaan sombong dan riya’ ketika kamu mengenakan pakaian tersebut ! jangan pula bagus dan indahnya pakaian dijadikan ajang pamer.
a. Mesti Menutup
Merupakan kriteria pakaian syar’i yang kudu kamu perhatikan adalah bahwa pakaian tersebut harus menutup aurat, yaitu longgar tidak membentuk lekuk tubuh dan tebal sehingga tidak memperlihatkan apa yang dibaliknya. Jangan sampai kita berpakaian tapi pada hakikatnya telanjang
b. Nggak Tasyabbuh
Apasih tasyabbuh? Bahasa gampangnya itu adalah menyerupai sesuatu. Dalam hal ini pakaian yang dipakai laki-laki tidak menyerupai perempuan atau sebaliknya. Sesuai hadits: “Rasulullah melaknak (mengutuk) kaum laki-laki yang menyerupa kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (Riwayat Al-Bukhari)
c. Bukan Show!
Kalo kamu perhatikan diseputar kita ngak sedikit loh, orang yang menegnakan pakaian dengan tendensi agar dikenal orang. Tebtunya pakaian show (untuk ketenaran), tak dibenarkan oleh syariat. Bahkan rasulullah telah bersabda: “Barang siapa yang mengenakan pakaian ketenarang didunia niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan di hari Kiamat.” (Riwayat Ahmad)
d. Ga’Bergambar
Nah, kamu yang menyenangi pakaian bergambar, mesti menghindari gambar makhluk yang bernyawa ataupun gambar salib, karena ini masuk dalam kawasan terlarang. Sebuah hadits mengatakan, “Rasulullah Sallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak perna bembiarkan pakaian yang ada gambar salibnya melaingkan Nabi menghapusnya.”(Riwayat Al-Bukhari dan Ahmad)
e. Larangan Khusus Pria
Di khuskan bagi pria, tidak diperkenankan memakai emas dan kain suterah kecuali dalam keadaan terpaksa. Karena hadits yang bersumber dari Ali Radiallaahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya Nbi Allah Subehanahu wa Ta’ala perna membawa kain sutera ditangan kananya dan emas di tangan kirinya lali beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dua jenis benda ini haram bagi kaum lelaki dari ummatku.” (Riwayat Ahmad)
f. Seberapa Panjang?
Tentang ukuran panjang yang mesti diperhatikan adalah bahwa panjang pakaian laki-laki tidak boleh melebihi kedua mata kaki. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Apa yang berada di bawah mata kaki dari kain itru di neraka.” (Riwayat Al-Bukhari). Adapun ukueran pakaian perempuan, maka seharusnya pakaiannya menutup seluruh badannya, termasuk kedua kakinya.ini terkandung secara umum dalam hadist tentang sombong yaitu , “Allah tidak akan memperhatikan di ahri kiamat kelak kepada orang yang menyeret pakainnya karena sombong.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
g. Kanan Dulu!
Tak ada secuil pun tuntunan yang di tinggalkan Rasulullah pada para ummatnya, termasuk dalam etika bverpakaian. Sebuah sumber yang berasal dari Aisyah menyatakan, “ Rasulullah Sallallaahu ‘alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dengan yang kanan) didalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut, dam bersuci.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
h. Pilih Putih
Disunnahkan bagi laki-laki memakai pakaian warna putih, karena didalam hadits dikatakan: “Pakaian yan g berwarna putih dari pakaianmu, karena yang putih itu adalah yang terbaik dari pakaianmu…” (Riwayat Ahmad)
i. Lain-lain
Eh, bagi kamu kaum hawa jangan sekali-kali melakukan pemasangan tato, menipiskan bulu alis, memotong gigi supaya terlihat cantik dan menyambung rambut (bersangkutan). Karena Rasulullah Sallallaahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya mengatakan: “Allah melaknak (mengutuk) wanita pemasang tato dan yang minta ditatoi, wanita yang menipiskan bulu alisnya dan yang meminta ditiskan bulu alisnya dan yang meminta ditipiskan dan wanita yang mruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, (maka) mengubah ciptaan Allah.”

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, Februari 14, 2008

Dibalik Perayaan Valentine

Diposting oleh misbah06_blogspot.com

Bulan ini adalah bulan Februari, ada tradisi unik yang sering dirayakan oleh sebagian besar manusia pada bulan ini, khususnya para remaja. Tradisi tersebut tidak asing lagi dimata kita. Yah..! hari valentine, yang mereka asumsikan sebagai hari kasih sayang. Benarkah seperti itu?, adakah tuntunan perayaan valentine dalam agama kita? dan bagaimana pandangan syari’at tentang valentine? pada kesempatan kita akan membahas ada apa diabalik perayaan valentine ini. Selamat menyimak!

Memasuki bulan ini kita bnyak menyaksikan banyak media massa, mall-mall, pusat2 hiburan bersibuk ria menarik perhatian para rmaja, denan menggelar acara2 demi meyemarakkan sebuah acara yangt bernam "valentine" dan yang lebih ironis lagi bahwa pemuda-pemidi islam pun ikut ambil bagian dalam perayaan tersebut.
Dalam agama kita telah dijelaskan bahwa semua ibadah yang kita niatkan semata untuk Allah Subehanahu Wa Ta'alah, maka harus dilandasi pada dua hal yaitu iklas karena Allah da harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. artinya barang siapa yang melakukan perbuatan yang tidak ada darasnya dalam agama kita, makaamalan tersebut tertolah bahkan diganjar dengan neraka wa iyadzubillah
perayaan valentine adalah "produk" yang berasal dari agama nasrani dan kemudian diikuti oleh remaja muslim di negeri ini padahal Rasululllah berkat pmelalui sabdanya :
"barang siapa meniru suatu kaum maka ia termasuk dari kaum tersebut"(H.R. at-Tarmidzi)
Kata imam ibnu Qayyim :memberi selamat atas ritual orang kafir yang khusus kepada mereka telah disepakati haram”. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Karena berarti mereka telah memberi selamat atas perbuatn mereka yang menyekutukan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, bahan dosanya lebih besar disisi Allah Subhanallahu Wa Ta’ala dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.
Mengarahkan fikrah yang islami
Fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin tentang perayaan Valentine :Merayakan hari Valentine itu tidak boleh karena :

  • ia merupakan hari raya bid'ah yang tidak ada dasarnya hukumnya di dalam syari`at islam
  • Ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk salaf, maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makanan, minuman, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim bangga terhadap agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan.

Jadi telah jelas bagi kita bahwa perayaan valentine adalah ritual agama nasrani yang sama sekali tidak pernah diajarkan atau dicontohkan oleh generasi terdahulu, jadi masih perlukah seorang muslim bervalentine ria? Seorang muslim akan segera menolak setelah ia tahu hakikat sebenarnya dan segera bertaubat dari melakukannya. Tidak semua yang berdasarkan cinta adalah baik dari sisi agama. Sebenarnya dalam Islam tidak mengenal hari kasih sayang. Kasih sayang dalam islam terhadap sesama tidaklah terbatas dengan waktu dan di manapun berada, baik untuk keluarga, kerabat, dan sahabat yang semuanya masih dalam koridor-koridor agama Islam itu sendiri. Nabi Sallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda ”cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri” (HR Bukhari).
Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan,namun sangat menjunjung tinggi akan arti kasih sayang terhadap ummat manusia.
Dengan datangnya hari valentine, dikhawatirkan bagi kaum muda-mudi yang tidak mengerti akan terjerumus dalam hal-hal negatif dengan menafsirkan kasih sayang di hari yang spesial ini. Firman Allah Subhanallahu Wa Ta’ala: dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan satu jalan yang buruk” (QS. Al-Israa: 32). Yakni perbuatan yang dilarang oleh agama, baik secara terang-terangan maupun yang tersembunyi. Oleh karena itu, kita mesti sadar apa arti sesungguhnya sebuah kasih sayang itu, dan kemudian kasih sayang itu perlu diaplikasikan dalam setiap lini kehidupan kita, dan untuk mengaplikasikannya harus sesuai dengan tuntunan syariat (Al Qur’an dan As Sunnah).
Wallahu a`lam bis shawab.
Sumber:
v Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’ imah lil Buhuts Al-‘Ilmiayah wal Ifta’ (21203) tanggal 22/11/1420 H.
v Majalah Elfata edisi 02 vol 06/2005
v Majalah Elfata edisi 02 vol 07/2007


[+/-] Selengkapnya...